Thursday, August 23, 2007

Batak Berekor atau Berbelalai...?


Beberapa waktu yang lalu Tati dapat komen dari Ito Faiz Siregar. Komen-nya diletakkan di posting Puisi Tinneke, tapi komen tersebut mengenai kamus Angkola yang disusun Papa dan teman2nya (termasuk Opung Parningotan Siregar gelar Baginda Hasudungan dari Bunga Bondar, pernah dengar nama ini, Ito Faiz?), serta kabar bahwa keberadaan kamus tersebut telah diberitahukan ke para anggota milis Parsipirok. Makasih, ya Ito. Kiranya Tuhan yang membalas segala budi baik Ito. Mudah2an juga kamus ini bermanfaat bagi generasi penerus Batak Angkola, dan semoga Kebudayaan Batak Angkola tidak punah ditelan zaman… Papa dan teman2nya pasti akan bahagia bila karya mereka bisa bermanfaat. Sekali lagi, terima kasih.

Mami Uli sedang mengamati Tati pake bulung

Komunikasi dengan Ito Faiz dan keberadaan milis Parsipirok, seakan kembali mengugah perasaan Tati, bahwa Tati itu adalah Boru Batak… Iya, nama Tati kan Sondha Siregar… Sebagian besar orang Indonesia pasti tahu, kalo nama itu menunjukkan bahwa Tati berasal dari suku Batak…

Btw, teman2 tau gak kalo suku Batak itu, sebagaimana Dayak juga punya banyak varian? Antara lain Toba, Karo, Mandailing dan Angkola. Bedanya apa sih? Kayaknya sih awalnya beda sebaran secara geografis (maaf kalo salah, ya). Batak Toba, bermukim di sekitar Danau Toba, Batak Karo, bermukim di daerah Tanah Karo (Brastagi, Kabanjahe, Tiga Binanga dll), Batak Mandailing bermukim di daerah perbatasan Sumatera Utara dengan Sumatera Barat. Tapi akhirnya juga jadi berbeda dari cara berlaku, orientasi hidup dan juga bahasa.. Jangan heran kalo orang Mandailing menyebut uang dengan piti dan memanggil saudara laki2 ibunya dengan Mamak, seperti orang Sumatera Barat. Sementara orang Angkola dan juga Toba menyebut uang sebagai hepeng, serta memanggil saudara laki2 ibunya dengan Tulang. Pernah dengar istilah “hepeng na mangatur nagaraon”.. ??? Ini bahas sindiran yang artinya ngeri bangeeeeetttttttt…, bertentangan dengan What Money Can Buy..

Tati gak tahu banyak tentang suku Batak… Tati hanya memperoleh pengetahuan dari keluarga dan sedikit2 dari buku2 sejarah keluarga yang ditulis Opung Bagon Harahap gelar Baginda Hanopan dan Pak Tuo Anwar Janthi Siregar. Tapi Tati tahu bahwa keluarga Tati adalah orang Batak Angkola. Tepatnya, kampung Papa di Sibadoar (sekitar 1.5 km dari Kota kecil Sipirok) dan kampung Mama di Hanopan (terus lagi dari Sibadoar sekitar 20 km).

Apa itu Batak Angkola..?? Batak Angkola adalah orang Batak yang secara geogafis bermukim di antara wilayah Batak Toba dan wilayah Mandailing. Efeknya kita mempunyai karakter budaya sendiri, yang unik… Gak segalak, dan seblak-blakan orang Toba, tapi gak juga dipengaruhi budaya Sumatera Barat sebagaimana orang Mandailing.. Orang Angkola lebih mementingkan keselarasan, sementara orang Toba lebih mementingkan hamoraon (kemuliaan), hagabeon (nama besar) dan hasangapon… Orang Toba juga menganggap berdebat dengan keras adalah sebagai sesuatu yang biasa2 aja…. Sementara di Angkola budaya maila(malu)-nya lebih kuat… Jadi jangan heran ya kalo banyak orang Toba yang jadi pengacara beken.. Mereka memang dari sononya udah jago berdebat dan menarik urat leher…

Beberapa teman Tati yang baru kenal gak percaya kalo dibilang Tati tuh orang Batak.
Katanya, cara ngomongnya, baik logat maupun tutur katanya sama sekali gak seperti orang Batak… Macak cih…..??? Jadi malu deh kami……!!!


Kalo soal logat, mungkin karena Tati dibesarkan di Pekanbaru, di lingkungan Melayu (kan Tati orang Pekanbaru !), plus pengaruh pernah tinggal di beberapa kota yang berbeda, jadi logat Bataknya gak tersisa… Kecuali kalo lagi ngomong batak, atau kalau lagi marah…, hmmmmmm keluar deh ekornya… (kan ledek2annya orang Batak tuh dibilang berekor, gak tau kenapa…) Hehehe.

Kalo soal tutur kata…, kita emang gak terbiasa ngomong bledak beleduk… karena emang di keluarga tidak begitu.. Dan memang orang Angkola itu tidak beledak beleduk., kecuali kalo lagi marah karena merasa harga dirinya diinjak2…

Ngomong2 soal orang Batak.., Tati tuh gak tau banyak adat istiadat Batak Angkola… Paling ngertinya bagaimana bertutur sapa. Ini juga gak gampang lho. Secara, panggilan terhadap anggota keluarga dari garis ibu dan ayah berbeda.. Bahasa juga gak fasih2 banget.. kalo diajak ngomong bisa dikit2.. Kalo pulang ke kampung mudah2an gak malu2in.., karena masih ngerti kalo dengar orang bicara… Kecuali kalo ketemu dengan istilah2 ajaib, seperti beberapa yang diajarkan Mama : bucenetan, dursat, tukap tikap tippalang tipayak. Hehehe. I love your sense of humor, Mam…!!!

Sebenarnya Papa yang punya banyak pengetahuan tentang adat istiadat, karena Papa tuh boleh dibilang Raja Adat (artinya orang yang dituakan dan menguasai tata cara adat). Tapi karena kita hidup di kota yang berbeda dengan Papa, kita jadi gak bisa belajar langsung dari Papa..

Waktu Tati kecil, sekitar kelas 4 SD, Tati pernah mengikuti acara adat Batak. Tapi karena Tati masih bocah, jadi banyak gak ngertinya… Seingat Tati, keluarga kita tuh bikin acara berhari-hari dan bermalam-malam di Sibadoar, pake acara potong kerbau. Bahasa Batak Angkolanya Horja. Selama acara2 tersebut, kalo kita anak2 yang masih kecil gak perlu hadir di pada tahap2 tertentu, kita diantar pulang ke rumah Opung di Sipirok. Makanya Tati jadi gak tau semua yang dilakukan.., hanya ingat acara2 yang Tati dilibatkan.. Dan mungkin ada yang udah terlupakan pula… (mudah2an Papi David bisa segera menuliskan tentang ini berdasarkan buku tulisan Pak Tuo Jakarta (Anwar Janthi Siregar) di blogs-nya ya..?)

Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan alias Opung Kotuk (Buyut Tati)

Yang Tati ingat, waktu itu keluarga Tati meresmikan Bale ni Ja Barumun dohot Poparanna, yaitu sebuah bangunan beratap tapi tidak berdinding yang menaungi kuburan leluhur Tati. Siapa aja ? Waktu tahun 1978 tersebut, di bale itu terdapat kuburan Ja Barumun dan 3 istrinya (istri2 yang muda dinikahi sebagai pengganti istri yang meninggal, maaf ya, keluarga Tati penganut monogamy. Hehehe), Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan alias Opung Kotuk (putra Ja Barumun alias Buyut Tati) dan 2 istrinya, serta Piter Siregar gelar Sutan Barumun Muda (Putra Baginda Parhimpunan alias kakeknya Tati), yang saring2 (tulang-tulangnya) nya dipindahkan dari kompleks Pemakaman Blok P, Kebayoran Jakarta sekitar 6 bulan sebelumnya. Saat ini, di bale tersebut telah bertambah penghuninya, yaitu istri Sutan Barumun Muda (Menmen Harahap, putri Tuongku Mangaraja Elias alias Opung Lintje alias nenek Tati), Opung Pintor (Adik Sutan Barumun Muda) beserta istrinya.

Pieter Siregar gelar Sutan Barumun Muda, Opung Tati

Yang Tati ingat, anggota2 keluarga kita dikasi gelar. Termasuk Tati.. Waktu pemberian gelar itu Tati dipakein baju kebaya (Nggak tau punya siapa tuh yang dipinjam..Untung ada yang muat ya.. hehehe), lalu dipakein bulang (hiasan kepala pengantin wanita Batak). Waktu itu Tati dikasi gelar NAI BONA RAJA, katanya sih artinya Ibu Para Raja. Tapi kata bang Rio, gelar Tati itu mestinya NAI BONA GAJAH KECIL BERBELALAI PANJANG…. Rong-rong nya siapa ya...? Hahaha…

Jadi kesimpulannya, Tati itu BATAK BEREKOR atau BERBELALAI, ya?***

Tati dan Mami Uli (yang kecil di sebelah kanan Tati)saat diarak2 keliling kampung di Sibadoar.

16 comments:

Faiz said...

Ito Sondha.
Jadi ikut populer nih saya, msk blognya ito.Jd ingat lagi tentang angkola sipirok.
Hari ini saya dpt e-mail dr milis parsipirok ktnya Ito cucu Opung Parningotan Siregar (yg sdh almarhum).Nanti saya sampaikan cerita pagi ini ke milis ya (minta izin) utk revisi.
Saya lahir di Bungabondar, tp SD - SMA di Sidimpuan.Namun msh sering ke Bungbondar (yg pasti akan lewat Sibadoar, dan lihat Gajah Putih). Setelah tinggal di luar Tapsel, Insya Allah setiap thn saya usahakan plg kesana. Cuma stlah ada 2 pasukan di rmah (bayo & boru regar) jd berat jg kesana. Meski low cost airlines mkn banyak, ttp saja hrs "khusus menyisihkan" dana. belum lagi perjuangan Medan - Sipirok. Jalanya mkn rusak.
Pernah suatu kali (2thn lalu) plg tugas kantor dr pkbaru nekat ke sidimpuan (lwt pasir pangaraian), tp ternyata medannya jg berat.
Terima kasih atas kisahnya ito.
Kayaknya saya menjadi pembaca dan menunggu blognya, meski cuma di kantor (krn lebih cpt dan yg pasti gratis hee..hee).
Salam dan sehat selalu ito.

Tati said...

Saya bukan cucu beliau, tapi kami masih punya hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Kalau tidak salah, bapak beliau adalah saudara laki2 buyut saya yang perempuan (petronella siregar). Tapi biasanya kami selalu singgah di rumah beliau kalau pulang kampung dan akan ziarah ke hanopan. Papa saya namanya Arden Siregar. Opung saya namanya Opung Lintje (meninggal tahun 1989). Biasanya orang lama di kampung kenal sama Opung. Rumah Opung di Jl. Simangambat No. 45, di depan tangga 40. Belakangan Opung tinggal di rumah warna putih, kira2 rumah ke dua setelah bioskop sipirok.
Btw, saya juga sering uploadnya di kantor.. Lumayan bisa menghemat.. Hehehe..

Andi said...

Horas Ito,

Senang sekali nemukan blog ito ini waktu search siregar di google Mulanya iseng aja pengen tahu bakal nongol berapa banyak siregar di internet,,,eh buanyak banget ya.
Baca posting ttg acara adat jadi inget waktu di"horjahon" pas nikah dulu di kampung.. Kami dari Simaninggir, kalau nggak salah (musti cari dulu mana tarombo yg dibikin almarhum papaku dulu ya) Ja Barumun ini bersaudara dengan dua orang lagi. Yg pertama Mangaraja Hulubalang, yg kedua Ja Ledang & yg ketiga Ja Barumun. Kami di Simaninggir keturunan dari Mangaraja Hulubalang. Mudah-mudahan saya nggak salah. Mungkin bisa didouble check.
Salam,

Tati said...

Horas juga Ito Andi.
Makasih udah ninggalin komen.
Soal Ja Barumun bersaudara nanti saya check ke Papa saya, ya.. Kebetulan saya sedang di Medan tapi Papa sedang pulang ke Sipirok dengan David, ito saya.

Horas..

Tati said...

Ito Andi, saya berharap suatu saat kembali membaca postingan yang ini.. Saya beberapa waktu yang lalu baru tau ternyata sahabat saya ada yang juga orang Simaninggir, marganya Harahap. Mungkin Ito kenal atau malah ada hubungan kekerabatan. Namanya Diana (Anna) Chalil, saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Pertanian USU.

Anonymous said...

Ito,

Maaf saya nggak kenal dengan yg ito maksud tersebut. Tapi kalau di-runut-runut mustinya ketauan nanti.
Kita sebenanrnya ada hub keluarga, karena mama-ku kan dari Bunga bondar, Ompung namanya H. Muslim Jalil, rumah ompung di Medan di simpang Syailendra-S.Parman. Pasti tau lah si Uwak. Waktu saya baca posting tentang keluarga kalian dan ada Ompung BS juga Ompung Toga, langsung aku ngeh terutama Ompung Toga, karena dekat banget beliau dengan Ompung di Syailendra. Juga waktu mama-ku kutunjukkan gambar mama-papa ito di blog ini dia langsung tau kok.
Kalau boleh saran, maunyan diblog ini ada direktori postingannya ya, sehingga kalau mau ngebaca postingan yg lama tidak terlalu susah nyarinya.

Salam,
Andi

Sondha said...

Ito Andi,

Seneng sekali tau kalo kamu adalah cucu Opung Syailendra (demikian saya memanggil Opung Ito). Waktu kecil saya sering sekali ketemu dengan Opung Syailendra yang perempuan, secara Opung itu dekat dengan Opung Sei Bingei (mamanya tante Lely alm), dan saya menghabiskan sebagian masa kecil saya di Medan.

Waktu kecil saya sering sekali dibawa ke rumah Opung Syailendra. Bahkan saya pernah hadir di acara2 pernikahan di rumah Opung. Bahkan rumah Opung selalu ada dalam kenangan masa kecil saya. Jadi kalo melintas di Jl. S. Parman di depan rumah tsb, pasti kenangan masa kecil itu muncul.

Terakhir saya ke rumah itu tahun 2006 yang lalu, waktu sama Papa menghadiri halal bi halal keluarga Harahap.

Ito, sekarang tinggal dimana? Maunya sekali2 kita ketemu ya, supaya hubungan kekerabatan tidak putus. Dan itu lah salah satu harapan saya dengan menulis blog ini.

Anonymous said...

Batak Israeli

BANGSO BATAK TOBA, KETURUNAN ISRAEL YANG HILANG

Edisi - Revisi


Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat,
negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari
dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama
Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini
disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.

Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel.
Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas
kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai
sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan
bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan
dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi
lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.

Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa
Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara
Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun
banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain,
terserak diseluruh dunia.

Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan
orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke
negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak
pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga
dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa
perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan
hidup.

Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian
kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok
penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina,
tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk
Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak
mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah
Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan
sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan
penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di
negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam.
Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup
di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti
Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir
tebal, rambut keriting, dll.

Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut
Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu
memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang
merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.
Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari
mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan
transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya
mengapa ada Israel hitam.

Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-
perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita
tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya
mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang
dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era
Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak
yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu,
dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang
konon ada disana.

Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan
bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel
kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba
sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang
memberikan perhatian terhadap hal ini.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra),
adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang,
pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan
sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.

Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD),
sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA
diantara bangsa-bangsa.

Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di
Hindia yang berdekatan dengan India. Sumatera juga merupakan salah
satu pulau di Lautan Samudera Hindia.

Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula
tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD)
yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan
di Elam, di Sinear, di Hamat dan
di Pulau-pulau di Laut.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta
dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi,
guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik
Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.

Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan
tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam
Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama,
dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar
Alkitab.

Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah
keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi
karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka
bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang
Melayu.

Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel
dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk
pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke
pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin.

Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria.
Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga
dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai
orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu
terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan
menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam
ke perut bumi.

Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel
bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik
Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat
untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi
bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku
yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman
untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur
sejarah dan spiritual.

Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel
kuno adalah sebagai berikut:

1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)

Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui
garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang
tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya
dianggap na lilu - tidak tahu asal-usul - yang merupakan cacat
kepribadian yang besar.

Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang
sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian
Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka
yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang
ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud
dan pihak ibuNya (Maria).

Catatan:

MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah
(patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis
keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah
merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang
meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini,
dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak
sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols
adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain,
Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta,
kemungkinannya) . Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon,
berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM
LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain.

TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.
Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila
orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya
Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui
apakah mereka saling “mardongan sabutuha” (semarga) dengan
panggilan “ampara” atau “marhula-hula” dengan
panggilan “lae/tulang” . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah
ia harus memanggil “Namboru” (adik perempuan
ayah/bibi), “Amangboru/Makela” ,(suami dari adik ayah/Om), “Bapatua/
Amanganggi/ Amanguda” (abang/adik ayah), “Ito/boto” (kakak/adik) ,
PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang
dapat kita jadikan istri, dst.

2). Perkawinan yang ber-pariban

Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak,
tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan
untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup
report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini
tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam
bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni
tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan
yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau
anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.

Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-
isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah
perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah
terjalin dengan perkawinan.

Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub
menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel.
Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu
dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel
kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan
perkawinan seperti itu.

3). Pola alam semesta

Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua
ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua
toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola
yang sama.

4). Kredibilitas

Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern,
setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah
tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang
tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang
pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang
diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja
sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat
penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan
pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga
demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar
sebagai jaminan janji (Kej. 38).

5). Hierarki dalam pertalian semarga

Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-
laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan
terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan
perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis
keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari
Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang
(bandingkan dengan Rut 1:11).

Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan
saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah
tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu
kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini
diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : “Mardakka do salohot,
marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan”.

Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan
Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas
ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis
silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia
mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami
Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika
ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya,
mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang
paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do
salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

6). Vulgarisme

Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-
beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah:
son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini.
Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan
serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.

Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang
spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut
sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk
dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang
dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarka 6ea n sumpah
serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege,
hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira
begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak
kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”.

Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol
kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa
dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme
seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya
serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis
sama dengan sumpah serapah orang Batak).

7). Nuh dan bukit Ararat

Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar
yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur
ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah
tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab.
Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku
Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan
kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit
Pusuk Buhit.

Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli
Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah
puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada
bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput
gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar
mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya
setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk
Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang
mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.

Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena
setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi
berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk
pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi
Pusuk Buhit.

8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)

Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-
belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang
terkait. Alasan ini sangat praktis.
Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari
kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah
lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering
alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat
mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.

Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah
sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir
ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam
Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang
belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh
seorang nabi).

9). Peratap/Ratapan

Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota
keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka
menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan
menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung.
Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair
kematian dan syair kesedihan hati.

Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka
mangandung ad 676 alah satu bentuk seni yang menuntut keahlian.
Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan
sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang
pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan
kehadirannya pada setiap ada kematian.

Di desa-desa, terutama di daerah leluhur - Tapanuli - tidak
mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga
dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat
setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung
hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan
sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati
memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar,
sekedar menunjukkan rasa terima kasih.

Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian
si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap
adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga
dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik
yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.

Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-
andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan”
Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah
meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah
tentang mendiang familinya itu.

Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika
Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar
para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap.
Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel
kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati
bukan pada acara kematian.

10). Hierarki pada tubuh

Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi
martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai
permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah.
Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak
kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada
seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah
telapak kakiku ini”, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak
kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh
seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.

Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu
diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa
Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap
dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang
lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap
dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

11). Tangan kanan dan sisi kanan

Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat
kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali
berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena
terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak
tercatat aktivitas sisi `kanan’ yang melambangkan penghormatan atau
kehormatan.

Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang
menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca
Kejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan
hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8,
Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

12). Anak sulung

Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan
bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan
berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika
ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan
mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh
anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu
martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu
adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar,
memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang
melekat pada anak sulung.

Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi
tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku
Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah
anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22,
34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9,
Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan
18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

13). Gender

Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan
silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik
orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama
terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak
perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam
Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali
jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu
Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan
karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-
nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.
Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa,
tetapi anak laki-laki, red.

13). Kemenyan BATAK TOBA

Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera
Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau
cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di
Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa
kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat
cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu
dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan
besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin
bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen
dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus.

Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita
itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama
kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat
dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati
Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat
menyejahterakan masyarakat Tapanuli.

Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. “Nenek saya
pedagang kemenyan,” tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936
neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari
Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan
sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani
dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu
gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16
kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk
Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli.
Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada
ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

14). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari

Di dalam tradisi Parmalim - Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak
bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk
Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah
tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama
dengan diadakannya Pesta Martutu Aek.

Memang tidak ada sunat, tetapi beberapa suku Israel seperti Bene
Menashe di India dan Suku Chiang Min pun melakukan hal yang sama.
Karena apa? Karena mereka sudah melalui generasi ke generasi,
asimilasi, masuknya unsur-unsur lokal dan sebagainya, seperti nama-
nama dewa-dewi sesembahan lokal dimana mereka tinggal. Seperti
itulah, tetapi identitas keaslian mereka sebagai keturunan Israel
masih kelihatan. Seperti budaya, adat, Agama -Kepercayaan
Monotheisme (meskipun masuknya paham lokal setempat), dan beberapa
kebiasaan yang berbeda dengan suku - suku yang lainnya.

15). Monoteisme Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim

Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba

Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur
batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-
kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.
Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang
menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang
ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih.

Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim
sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.

TUHAN menurut Hamalimon –Parmalim – Ugamo Malim

Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang
Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak
bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu
wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan
tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha
Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh
dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa
mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat
Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.

Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan
Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan
membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah
Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk
kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama
asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu
Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).

Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia
yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu
diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja
pertama di Desa Pancuran, Barus.

Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9,
diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420
talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau.
Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-
Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s.
berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-
Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati
Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir
itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat
pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis
Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang
Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-
15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di
sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Secara “teologis” bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut
paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena
tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi
Nabolon (Tuhan Pencipta langit dan bumi). Ini hal yang luar biasa
uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak
menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno
yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan
kurun waktu ribuan tahun.

16). Ibadah Parmalim

Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual)
Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta
memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat
melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.

Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang “Parmalim” wajib mengikuti 7
aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan
tersebut adalah :

1. Martutuaek (kelahiran)
2. Pasahat Tondi (kematian)
3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan
Simarimbulubosi)
7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)

Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang “Parmalim” harus
menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan seperti menghormati dan
mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh
berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar
hal tersebut, seorang “Parmalim” juga diharamkan memakan daging
babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah.

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya
dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat
kehidupan roh suci nan kekal.-Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo
Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun
temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu
Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi
Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim
layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran
aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata
pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun
kepada Pencipta.

Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan,
ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,”
jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata
Parmalim yang berasal dari kata “malim”.

Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan
Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan
bumi). “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang
mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok. Yang kami
puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh
jahat),” katanya.

“Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap
Parmalim.” Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon
adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia
mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni
Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi.
Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon)
serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi
Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup
menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin
seperti rakyatnya.

Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan
utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada
Debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran
Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan.
Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim
yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so
diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan
semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap
perilaku kita).

Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau
Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para
raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah
Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis alkitab, hanya Suku
Yehuda yang dijuluki Singa.

Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, Pemimpin
Parmalim, ” Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan
sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya,
perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam
kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu
bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon.
Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan
hidup suci.

Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, “Berilah
kepada kami
penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini
dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.” Mereka yakin Debata
hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan
yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga
mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim
adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.

17). Ibadah setiap Hari Sabtu - Samisara -Marari Sabtu

Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan
larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah
Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti
Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam
menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau
melakukan kegiatan apapun. Penganut Parmalim melakukan ucapan syukur
pada setiap hari Sabtu.

Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: “Samisara itu
hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu,
supaya berlaku untuk selamanya.

Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa
bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu.”

Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi
yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual
sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan
Hatutubu ni Tuhan.

18). Larangan makan Babi, Anjing, Binatang liar, dan Darah

Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di
antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan
seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah
dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran
Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada
Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan
pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia
dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan
hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.

19). Ritual

Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual
besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap
tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan
Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima),
yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli.
Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para
Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda
syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata
Marnangkok.

20.) Kisah - Mitos

Dalam Kitab Parmalim, yakni Tumbaga Holing, terdapat kisah
manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa
digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim
itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh
sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis
Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan
Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung
mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang,
sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan
cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-
rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah
tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari
Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme
Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim –
Hamlimon – Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.

dan masih banyak lainnya lagi….

Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk
membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak
jumlahnya. Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli
statistik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain
yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa
Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi
sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta
kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang
lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku
Batak Toba bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa
jadi lebih.

Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau
bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan
seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu
semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu
etnis atau Bangso Batak Toba. Keberadaan unsur asing dalam
kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur
asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan
inferioritas kebudayaan yang menyerapnya.

Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi
positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan
oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi
suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal
balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami
sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai
budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat.

Pada jaman Raja-raja Israel dan Yehudah, telah dilakukan kontak
dengan Barus, Tapanuli dengan Israel, Mesir, Persia, Cina, India,
Arab, Yunani dan Pakistan yang terjadi satu milenium sebelumnya,
hubungan dagang tersebut sudah berlangsung beberapa abad sebelum
masehi).

Dari berbagai sumber.

tulisan ini telah direvisi ulang lagi…

Sondha said...

Masa siyy orang Batak itu turunan Israel..? Yang benar aja..?

Ciri fisiknya beda banget lho... kalo menurut saya orang Batak itu cenderung ada darah Mongolian.. Lihat tulang pipi yang tinggi, rahang yang rada kotak..
Sementara orang Israel garis wajahnya runcing2 dengan hidung yang diujungnya seperti tetesan air, plus mata yang lebar... Menurut saya siyy gak ada mirip2nya.. Enggak tau ya, kalo kena evolusi seperti teori Darwin...

Lagian orang Batak itu sampe abad 19 sepengetahuan saya siyy masih menganut animisme dan dinamisme. Sementara orang Israel udah berabad2 yang lalu mengenal monotheisme..

Mungkin perlu riset yang mendalam baru bisa disimpulkan lalu dipublikasi. Jangan berdasarkan romantisme pribadi, karena ini menyangkut sejarah.. Bukan tulisan2 pribadi yang bisa ditulis secara subjective.

Anyway, thanks for dropped a message in my blog

Partomuan said...

Horas
namaku Partomuan Manurung, ibuku Nainggolan Lumbanraja jadi aku lebih tepat manggil inangtua kali ya?

Saya tertarik dngan cerita Inangtua mengenai ompung Samuel SIregar dan ada fotonya pula.Waktu itu saya baca buku karangan Drs PTD Sihombing,MSc berjudul "Benih Yang Disemai dan Buah Yang Menyebar"

buku itu bercerita mengenai awal mula perkembangan agama Kristen di Tanah Batak dan beberapa tokoh yang terlibat dalam pengabaran injil tersebut diantaranya Nommensen, Maria boru Siregar dan Samuel SIregar. Dibuku itu juga disebutkan Samuel Siregar merupakan salah satu tokoh yang lulus pendidikan guru di Belanda. disitu disebutkan istrinya juga 2 yang pertama bernama Marta Boru Silitonga (meninggal)dan kemudian Samuel Siregar menikah lagi dengan ito kandung Sisingamangaraja XII bernama Tornagugun boru Sinambela.
Setelah melihat cerita inangtua mengenai Samuel Siregar saya ingin bertanya
1.apakah Samuel Siregar yang ada di buku diatas sama dengan Samuel SIregar ompungnya Inangtua? karena disebutkan punya istri 2 (bukan poligami maksudnya tapi kawin lagi karena istri pertama meninggal bukan?) soalnya di buku tersebut walaupun bercerita panjang lebar
2.APakah ada cerita2 dari ompung2 Inangtua bahwa dia salah seorang perintis agama Kristen?
3.Kalau memang benar Samuel Siregar ompungnya Inangtua sama dengan Samuel SIregar yang dibuku tersebut berarti leluhur Inangtua termasuk salah satu orang Batak angkatan pertama yang mengecam pendidikan Belanda!!!hehehe

Saya penasaran saja,karena selama ini marga Siregar termasuk marga yang merhargai toleransi beragama dengan dibuktikannya banyak marga SIregar yg Kristen dan Muslim sekaligus.Dan yang saya salut dari kawula siregar walaupun muslim masih tetap bangga dengan Kebatakannya (berbeda dengan orang2 Mandailing) HORAS!!!

Mengenai Batak keturunan Yahudi,jangan dianggap serius inangtua!saya sudah tanya Dr.Sangkot Marzuki Batubara (Halak Sipirok-ahli genetika dari LEmbaga Eijkman FK-UI) Batak dan sukubangsa Indonesia yang lain itu asalnya austronesia (dari kepulauan Taiwan)ya kayak orang2 Mongol itulah, tulisan BAtak turunan Israel yang Hilang" tersebut diatas bernuansa chauvinis ga tau motifnya apa dan tidak ilmiah samasekali

okelah terimakasih Inangtua salam kenal
HORAS JALA GABE

Sondha said...

Partomuan, makasih udah berkunjung ke blog saya.

Weiiizzz.. saya dipanggil iang tua? Kayaknya saya masiyy muda deh, dan masih funky.. Belum pantes dipanggil inag tua, kecuali oleh para ponakan yang masih imut2.. Hehehe..

Samuel Siregar yang ada di tulisan ini bukan orangtua saya, melainkan buyut (tulang) saya. Dan setau saya, beliau bukan yang dimaksud dalam buku yang kamu baca. Karena sejauh sejarah keluarga yang saya dengar, Samuel Siregar yang ini adalah seorang petani tetapi juga pemimpin tradisional di kampungnya..

Soal postingan dari orang gak jelas tentang hubungan orang Batak dan Yahudi, sebenarnya bisa saja saya hapus, tapi saya pikir untuk sementara waktu lebih baik dibiarkan saja dulu karena setipa orang berhak mengeluarkan pendapat meski kadang gak rasional. Biar pembaca yang menilainya. Mudah2an para pembaca cukup cerdas dan kritis..

Ucok Lubis said...

Horas Ito...

Wah salut dengan tulisan Ito yang bangga sebagai bagian dari Batak Angkola.

Mengenai penggunaan kata piti untuuk menyebut kata uang adalh bukan bahasa kami, kami sebut uang dengan kata hepeng (sama seperti Batak Toba dan Angkola). Mungkin bagi masyarakat Sumatera Barat yang tinggal diperbatasan dengan Sumatera Utara seperti daerah Rao dan Pasaman, mereka menyebut uang dengan kata piti karena mereka bahasa yang mereka gunakan sudah campur antara bahasa Minang dengan bahasa Batak Mandailing, begitu juga dengan kata-kata lainnya ada yang memakai kosa kata bahasa Minang tetapi ada juga kosa kata bahasa batak Mandailing yang mereka gunakan. Seperti juga sub-suku Batak lainnya, kami orang Batak Mandailing juga memiliki khas adat budaya yang memiliki perbedaan dengan Batak Angkola apalagi dengan suku Minang. Semoga masukan ini akan dapat menambah wawasan Ito terhadap budaya Batak Mandailing.


@ Lae Partomuan

Lae katakan:

"Dan yang saya salut dari kawula siregar walaupun muslim masih tetap bangga dengan Kebatakannya (berbeda dengan orang2 Mandailing) HORAS!!!"

Tanggapan saya terhadap kalimat lae diatas:

Apakah pernyataan dari 1-2 orang ataupun segelintir orang Mandailing yang menyangkal kebatakannnya dapat mewakilkan keseluruhan orang Mandailing sehingga lae langsung tarik kesimpulan kalau Mandailing tidak bangga dengan kebatakannya?
Mohon lae dapat menghargai orang-orang Batak Mandailing.

Horas!

Sondha said...

Ito Ucok,

Sungguh salut saya dengan orang muda seperti Ito (yg sdg studi pula di German) masih peduli dan mau belajar tentang asal usulnya. Hari gini, dimana sebagian anak muda kita mengisi waktunya dengan "have fun, man...! have fun....!!!"

Tulisan Ito merupakan masukan buat saya yang menulis postingan ini dengan pengetahuan dan wawasan yang masih sangat terbatas tentang adat dan budaya Batak. Terima kasih ya Ito.

Horas..

Partomuan said...

To Lae Ucok Lubis

HORAS

maap soalnya saya kira hampir semua orang Mandailing tidak mengaku Batak, makanya aku ambil kesimpulan seperti itu...setelah selidik punya selidik banyak juga orang Mandailing yang Mengaku Batak...HORAS BATAK MANDAILING,

sori ya lae, sebab banyak yang sudah mulai menanggalkan HABATAHON kita ini,saya lalu juga menyelidiki ternyata bukan orang Mandailing saja yang mulai gerah dengan KEBATAKAN, saya kadang2 melihat di milis SImalungun dan Karo mereka juga sengit memperdebatkan apakah mereka itu Batak apa bukan, silahkan lae masuk ke milis mereka dan search "BAtak" lae akan liat, banyak yg memperdebatkan nama tersebut...sedangkan Angkola,SIpirok, sangat kuat Kebatakannya, saya ketemu dengan supir angkot, distributor koran, pejabat pemerintah dll yang berasal dari Angkola atawa Sipiroks mereka bahkan tidak mau disama-samakan dengan Mandailing (yang saya temui ya)
namun saya bersyukur dapat berkenalan dengan orang Batak Mandailing orang2 seperti Lae Ucok Lubis, Ibnu Matondang, Basyral Harahap dll yang masih mengaku Batak Mandailing...

kapan2 ngopi2lah kita lae

To ito Sondha:

Samuel SIregarnya tak sama ya?Wah berarti kebetulan saja ya namanya Samuel Siregar hehehe takapalah sebab dibuku yang saya baca tersebut Samuel Siregar juga mempunyai 2 istri (bukan poligami loh) salah satunya br Sinambela masih sodara kandung (ito) dengan Sisingamangaraja (ga tau yg keberapa), berarti jaman dahulu setidaknya ada 2 orang Samuel Siregar yang juga sama2 punya istri lebih dari 1 (bukan poligami lho hehehe)

Horas ito SOndha :)!

Ucok Lubis said...

To Lae Partomuan,

Horas Lae,

beberapa atau sebagian orang ada yang tidak mau mengakui kebatakannya padahal orang-orang tersebut dari suatu sub-suku batak, bukan berarti suara orang2 tersebut layak dianggap mewakilkan keseluruhan sub-suku tersebut. Perbedaan pendapat pada suatu kesukuan itu biasa kok Lae, kebetulan saja beberapa orang dari beberapa sub-suku Batak yang lae kenal tidak mau mengakui kebatakannya. Perbedaan pendapat terhadap suatu sukunya bukan hanya pada sub-suku Batak tetapi juga pada sub-suku lainnya, seperti orang Cirebon yang umumnya tidak mau dibilang orang Jawa karena beberapa alasan. Menurutku adalah hak setiap individu untuk berpendapat tentang kesukuannya masing-masing. Dan wajar kayaknya lae, kalau supir angkot, distributor koran, pejabat pemerintah, dll dari Angkola (Sipirok) yang lae temui tidak mau disamakan dengan Mandailing karena Angkola dan Mandailing wilayahnya saja sudah berbeda, dan masing2 memiliki adat budaya yang khas masing2.. sama seperti membandingkan antara Simalungun dengan Toba. Aku punya banyak sahabat dan saudara dari Angkola (Sipirok), salah satu sahabatku yang bermarga Siregar justru tidak pernah mau bila dibilang Batak, karena beberapa alasan, tapi semua itu wajar2 aja menurutku.

Oh iya, aha marga lae?
Boleh banget lae, kapan2 kita atur waktu buat ngopi2 bareng :)



To Ito Sondha:

Horas Ito,

Apa kabar Ito? kapan nih kita ngobrol2 lagi :)


HORAS JALA GABE

Zarwan Harahap said...

Mengenai Angkola dan Mandailing sebenarnya tidak ada bedanya ito!

Sekarang ito bilang ito adalah angkola karena mungkin ito marga Siregar asalnya dari Sipirok, tapi bagaimana dengan Siregar yang lahir dan besar di daerah Panyabungan? Harus kah kita menyebut dongan tubu kita itu dengan sebutan Orang Mandailing, karena lahir di Mandailing???

Aplagi baca tulisan ito tentang penyebutan kata serapan dari daerah lain seperti ito bilang orang Mandailing sebut uang dengan Piti, sebutan Mamak, tapi ito gak sadar kalo ito pakai juga sebutan Pak Tuo dan Mak Tuo (subutan orang Melayu) dan semua itu sama sekali bukan dari bahasa Batak, smua sebutan2 itu hanya digunakan dibeberapa daerah karena pengaruh dari lingkungan sekitar atau pergaulan.

Jadi pada prinsipnya sama aja. Mandailing dan Angkola dan bahkan sub etnis batak yang lain itu adalah sama. Yang membedakan hanya marga, dialek pada bahasa, dan daerah asal.

Mandailing dan Angkola pun memiliki sedikit perbedaan saja dalam dialek berbahasa.

Jadi, inda adong masalah do kan ito?

Saya Harahap dari desa Sibatangkayu, Padang Bolak, Gunung Tua.